Saturday, July 2, 2016

Mengenali Penyakit Alzheimer melalui Film Driving Miss Daisy

Ilustrasi Film Driving Miss Daisy (freshwatercoastfoundation.org)

Belakangan ini saya mempunyai kebiasaan baru, yaitu berburu film-film yang berkaitan dengan psikologi untuk saya tonton dan pelajari. Setelah mencari beberapa referensi dari internet, akhirnya saya menemukan film “Driving Miss Daisy” untuk saya tonton. Driving Miss Daisy adalah sebuah film drama komedi tahun 1989 yang menceritakan tentang hubungan antara seorang wanita Yahudi tua (Daisy Werthan, yang diperankan Jessica Tandy) dengan sopirnya yang merupakan seorang Afrika-Amerika (Hoke Colburn, yang diperankan Morgan Freeman), selama 25 tahun. Film ini disutradarai oleh Bruce Beresford dan memenangkan empat Academy Award termasuk sebagai Film Terbaik.



Alur Cerita

Film ini bemula awal tahun 1948an. Awal mula pertemuan mereka adalah ketika anak dari Ny. Daisy (Boolie Werthan, diperankan oleh Dan Aykroyd), tidak memperbolehkannya untuk mengemudi lagi karena faktor keselamatan ibunya. Oleh karenanya, anak Ny. Daisy merekrut supir untuk mengantarkan kemanapun ia pergi. Akan tetapi sebagai wanita tua cerdas karena berlatar belakang sebagai guru, yang juga biasa hidup mandiri, ia menolaknya. Di sini keseruan film dimulai, Hoke pada awalnya mendapatkan penolakan-penolakan dari Ny. Daisy, bahkan cenderung selalu mendapatkan perlakuan sinis. Semua pekerjaan yang dilakukan Hoke selalu salah, akan tetapi dengan jenaka Hoke tetap tenang menghadapi situasi sulit ini. Untuk bisa mengantarkan Ny. Daisy untuk pertama kalinya, Hoke pun sedikit “memaksa” dengan caranya. Akhirnya Ny. Daisy mau dengan terpaksa. Penolakan Ny.Daisy ternyata juga didasari, bahwa dahulu, iya merupakan seorang yang susah hidupnya dan harus berjuang untuk mengatasinya. Akan tetapi, saat hidupnya sudah berkecukupan bahkan lebih, dia masih merasa dirinya seperti dulu dan cenderung hemat sekali bahkan pelit.

Ada situasi di mana di suatu pagi, Ny.Daisy kehilangan sekaleng ikan salmon yang dibelinya di toko, ia pun langsung menelepon anaknya untuk datang dan ia bersikeras menuduh kalau Hoke yang memakannya. Hal ini juga didukung karena dari awal Ny.Daisy sudah memiliki sentiment kecurigaan terhadap orang keturunan kulit hitam. Pada saat itu di Amerika ada jurang pemisah yang membedakan antara orang berkulit putih dan orang berkulit hitam. Balik lagi ke situasi tadi, pada saat Hoke datang, ternyata memang benar, Hoke mengakui hal tersebut, akan tetapi dia sudah membelikan lagi satu buah kaleng salmon sebagai gantinya. Ny. Daisy tertegun akan hal itu, tetapi tetap merasa gengsi mengakui tindakannya keliru.

Perlahan, seiring berjalannya waktu, situasi mulai berbuah. Ny. Daisy mulai bisa menerima Hoke sebagai supir pribadinya. Mereka sudah bisa bergurau satu sama lain. Sebenarnya, Ny. Daisy memiliki asisten rumah tangga yang juga seorang perempuan keturunan Afrika-Amerika (Idella, yang diperankan Esther Rolle) yang sudah dipekerjakannya selama puluhan tahun dan mendapat kepercayaannya. Tapi suatu saat Idella meninggal karena mengalami serangan jantung. Hal ini juga yang membuat hubungan Hoke dan Ny. Daisy semakin baik, karena saling membutuhkan satu sama lain. Lambat laun, Hoke, dengan sikapnya yang sederhana, secara tidak langsung mengajarkan berbagai hal baik kepada Ny. Daisy.

Selanjutnya, di tahun berikutnya, saat Ny. Daisy semakin menua, ada kejadian tak terduga saat Hoke datang ke rumahnya, dia mencari-cari Ny. Daisy ke sana ke mari, tapi tidak ketemu. Ternyata Ny.Daisy sedang kebingungan dan cemas sekali mencari sekumpulan berkas, yang ternyata Ny.Daisy sedang berhalusinasi, menggangap dirinya masih menjadi guru dan dia kehilangan berkas-berkas PR para muridnya yang harus dikembalikan kepada muridnya keesokan hari. Akhirnya Hoke bisa menenangkan Ny. Daisy dari keadaan tersebut. Setelah itu ada obrolan yang terjadi di antara mereka. Ny. Daisy merasa bahwa dirinya merepotkan dan tak mau akan hal itu. Lalu, tanpa terduga Ny.Daisy bilang kepada Hoke, kalau dia merupakan sahabat terbaiknya. Akhirnya beberapa tahun kemudian mereka harus berpisah, karena Hoke yang juga sudah tua, tidak bisa lagi menyetir dan Ny. Daisy karena keadaannya semakin menua dan tidak ada yang mengurusnya, dia ditempatkan di panti jompo oleh anaknya.

Mengulas Film

Jadi, setelah membaca alur cerita film Driving Miss Daisy di atas, ada beberapa hal yang bisa kita pahami. Mari kita lihat beberapa sifat atau prilaku yang dimiliki Ny. Daisy di atas, yaitu :

  • Berprasangka buruk dan curiga akan semua hal
  • Ketakutan, akan sesuatu yang dimilikinya diambil orang lain
  • Hemat, cenderung pelit
  • Berhulusinasi, tampak kebinggungan dan cemas


Sebenarnya prilaku-prilaku yang dimilikinya seperti berprasangka buruk, ketakutan dan pelit, terbentuk karena faktor lingkungan yang membentuknya seperti itu. Mulai dari berburuk sangka kepada orang lain (terutama orang berkulit hitam), hal ini dikarenakan pada masa itu di Amerika berkembang perbedaan kelas antara orang kulit hitam dan putih, yang dianggap orang kulit hitam derajatnya lebih rendah dibanding kulit putih. Lalu ketakutan akan sesuatu yang dimilikinya diambil dan cenderung pelit, hal ini didasari karena pada waktu kecil, Ny. Daisy pernah mengalami kemiskinan dan saat sudah menjadi kaya, kemiskinan itu terus menghantui, akhirnya dia tetap berprilaku hemat untuk menghindari dirinya dari kemiskinan itu lagi. Hal-hal di atas juga semakin bertamabah tingkatannya saat Ny. Daisy semakin menua. Untuk hal terakhir, saat Ny. Daisy mengalami halusinasi, hal ini diakibatkan oleh penyakit degeneratif, yaitu penyakit yang mengiringi proses penuaan. Dalam hal ini Ny. Daisy mengalami Alzheimer.

Apa itu Alazheimer?

Penyakit Alzheimer adalah jenis demensia (biasa disebut kepikunan) paling umum yang awalnya ditandai oleh melemahnya daya ingat, hingga gangguan otak dalam melakukan perencanaan, penalaran, persepsi, dan berbahasa. Pada penderita Alzheimer, gejala berkembang secara perlahan-lahan seiring waktu. Misalnya yang diawali dengan sebatas lupa soal isi percakapan yang baru saja dibincangkan atau lupa dengan nama obyek dan tempat, bisa berkembang menjadi disorientasi dan perubahan perilaku. Perubahan perilaku dalam hal ini seperti menjadi agresif, penuntut, dan mudah curiga terhadap orang lain. Bahkan jika penyakit Alzheimer sudah mencapai tingkat parah, penderita dapat mengalami halusinasi, masalah dalam berbicara dan berbahasa, serta tidak mampu melakukan aktivitas tanpa dibantu orang lain. (Sumber: Alodokter)

Pada tahap ini bisa kita liat saat Ny. Daisy mengalami halusinasi, hal tersebut diakibatkan penyakit Alzheimer yang menggangu kinerja otaknya akibat penuaan. Biarpun sebenarnya Ny. Daisy dalam hal mengingat masih sangat bagus, karena dia di masa tuanya masih banyak kegiatan seperti membaca dan dulu dia berlatar belakang sebagai guru. Di akhir cerita juga saya sebutkan keadaan Ny. Daisy yang semakin tidak berdaya, dan sedihnya harus ditempatkan di panti jompo oleh anaknya. Orang dengan Alzheimer seperti Ny. Daisy harusnya di masa tuanya memerlukan pendamping atau yang mengurusi agar terhindar dari keadaan-keadaan yang tidak mengenakan untuk dirinya dan orang di sekitarnya. Dengan catatan harus orang yang ekstra sabar untuk mengurusinya. Dan memang faktor-faktor psikologis terdahulu sangat mempengaruhi prilaku di masa mendatang dan juga penyakit degeneratif selalu menghantui kita di hari tua. Oleh sebab itu, usahkan selalu asah dan pergunakan otak kita sebaik mungkin.

Teringat Nenek Sendiri

Saya mempunyai seorang nenek yang juga mengalami hal serupa dengan Ny. Daisy. Umur nenek saya sekitar 80 tahun. Kondisi fisiknya sudah mulai menurun, tapi semangatnya dalam melakukan hal-hal tertentu masih luar biasa. Nenek saya sudah mengalami tahap Alzheimer di mana di sudah lupa perbincangan yang baru dilakukannya dan sering melakukan pertanyaan yang berulang-ulang. Lalu dia sudah mulai berhalusinasi dan curiga atau berprasangka buruk kepada orang lain bahkan orang terdekatnya, dengan tuduhan yang tidak masuk akal pula. Pernah suatu saat nenek saya kehilangan celana rok berwarna cokelatnya, saat itu saya tidak tahu apa-apa dan dituduh mengambilnya. Hal ini sudah diluar akal kita sebagai orang normal, masa saya pakai rok. Dan dia juga sering kehilangan dompetnya, dan kalau sudah mencarinya, seperti orang kebakaran jenggot dan semua orang dituduh mengambilnya. Pada awalnya saya sangat jengkel akan hal tersebut, akan tetapi setelah saya belajar psikologi dan mengetahui tentang penyakit Alzheimer ini, saya belajar untuk memakluminya. Semoga kalian yang mengalami hal serupa atau yang di rumah kalian ada orang tua yang menderita Alzheimer agar bersabar & kita bisa merawat orang tua kita sebaik mungkin, ya.

Saya & Nenek


Tuesday, May 12, 2015

Transformasi Save Street Child Kelas Pondok Ranji

Gardu listrik tempat belajar kelas Pondok Ranji. (Dok. Okezone)
Kelas Pondok Ranji terbentuk sekitar akhir tahun 2012. Lokasinya terletak di lingkungan area Stasiun Pondok Ranji (Bintaro), Tangerang Selatan. Selama kurang lebih 2,5 tahun kelas ini berjalan, banyak sekali kisah menarik yang sudah terjadi. Di kelas Pondok Ranji ini saya bukan sebagai pengajar, melainkan sebagai “pengawal” kelas yang ditugaskan oleh tim DIPI (Divisi Pendidikan) dari SSC (Save Street Child).

Murid-murid “spesial” kelas ini kebanyakan anak-anak marjinal yang setiap harinya bekerja mencari uang dengan mengamen atau menyapu di kereta KRL (Kereta Rel Listrik) ekonomi jurusan Serpong – Tanah Abang (dulu KRL ekonomi masih beroperasi). Mereka terpaksa menjadi anak marjinal kebanyakan karena kabur dari rumah, tidak tahan dengan keadaan orang tua yang tidak memedulikan mereka.

Anak-anak didik kelas Pondok Ranji saat mengamen di kereta.
Kelas Pondok Ranji diadakan setiap hari Minggu. Sebelum memulai kelas, para pengajar mesti mencari keberadaan anak-anak marjinal itu di tempat biasa mereka berkumpul. Terkadang para pengajar mendapati tempat berkumpul mereka kosong dikarenakan anak-anak itu sedang mengamen di KRL ekonomi. Jadi, para pengajar mesti menunggu mereka selesai mengamen di kereta dan kembali ke stasiun Pondok Ranji. Jumlah mereka sekitar belasan anak.

Setelah semua anak-anak berkumpul, mereka dan para pengajar menempati area gardu listrik di sekitar stasiun dengan bermodalkan alas duduk seadanya untuk melakukan kegiatan belajar mengajar. Pelajaran yang diajarkan seputar belajar berhitung, membaca & menulis. Terkesan hal mendasar yang diajarkan, namun kenyataannya masih banyak anak yang masih belum bisa berhitung dan bahkan ada anak yang sudah berusia sekitar 16 tahun tapi masih belum bisa membaca & menulis. Usia mereka sekitar 8 – 17 tahun. Selain pelajaran dasar seperti berhitung, membaca & menulis, mereka juga diajarkan pelajaran seperti agama, mengenal kosakata bahasa inggris, pengetahuan umum & keterampilan. Para pengajar juga memposisikan diri sebagai sahabat mereka, sehingga anak-anak bisa bercerita berbagai macam hal yang sifatnya pribadi. Jadi, para pengajar menjadi tempat curhat mereka.

Anak-anak sedang serius belajar. (Dok. Okezone)
Saat anak-anak mulai merasa jenuh saat mengikuti pelajaran yang diberikan, kegiatan belajar akan dihentikan sejenak. Beberapa pengajar berinisiatif meminta anak-anak untuk bernyanyi sambil memainkan alat musik yang mereka punya seperti yang biasanya mereka lakukan di atas kereta. Mereka begitu handal dan percaya diri memainkan “senjatanya”. Melihat mereka mahir memainkan alat musik, beberapa pengajar tertarik untuk mencoba memainkannya. Alat musik yang dicoba adalah gendang / tamtam buatan yang dibuat dari pipa paralon dan karet ban bekas. Mereka kreatif. “Ternyata susah juga ya memainkannya.” celetuk salah satu pengajar sesudah mencobanya. Alhasil, anak-anak itu mengajari para pengajar cara memainkannya. Jadi, di sini bukan hanya adik-adik itu yang belajar dari kakak-kakak pengajarnya tetapi juga para pengajar belajar dari adik-adiknya :) 

Kalo bosan ya, main musik :p 
Setelah beberapa bulan kelas berjalan, ada hal yang tidak mengenakan terjadi. Ada salah satu anak didik yang terlibat perselisihan yang berujung perkelahian dengan pedagang tahu di kereta. Anak ini melukai pedagang tahu itu di bagian bawah mata dengan menggunakan pulpen. Sangat mengerikan. Hal itu mengakibatkan anak ini harus mendekam di penjara. Sempat ada upaya dari kami pihak Save Street Child untuk membebaskan anak ini karena dia masih di bawah umur. Akan tetapi hal itu gagal karena korban meminta sejumlah uang yang jumlahnya sangat besar untuk membatalkan tuntutannya. Alhasil, kami pihak SSC (Save Street Child) sepakat untuk berhenti melakukan upaya membebaskan anak tersebut. Selain karena kami tidak mempunyai uang untuk membayarkan jumlah uang yang diminta, kami juga berpikir agar nantinya anak ini mendapatkan pelajaran dari apa yang telah diperbuatnya.

Beberapa bulan kemudian, kesedihan menimpa kelas pondok ranji karena ada salah satu anak didik yang meninggal dunia. Anak didik ini meninggal karena terjatuh dari atap kereta api yang sedang berjalan. Sangat mengerikan membayangkannya. Saat pertama kali mendegar berita itu kami semua syok, apalagi para pengajar, terlebih salah satu pengajar yang memiliki kedekatan dengan anak didik itu. Pengajar yang dekat sekali dengan anak didik itu, setelah beberapa saat kejadian, datang ke stasiun pondok ranji dan melihat sendiri kondisi korban yang menyedihkan berlumuran darah. Tangis pun tidak dapat terhindarkan. Keesokan hariya, anak didik ini dikuburkan dan kembali menghadap Sang Pencipta. Selamat jalan, Pian :)

Di penghujung tahun 2013, Save Street Child bekerjasama dengan Parental Advisory (perusahaan sablon) mengadakan pelatihan sablon untuk anak-anak didik SSC kelas Pondok Ranji. Pelatihan diadakan di Depok, markas SSC pusat saat itu. Mereka diajarkan bagaimana teknik sablon manual yang baik dan benar. Mulai dari mengafdruk (proses pemindahaan gambar model ke screen dengan menggunakan cahaya ultra violet / lampu neon melalui penyinaran), teknik menyablon kaos menggunakan tinta, hingga proses akhir yaitu pengeringan hasil sablon. Anak-anak terlihat antusias saat mencobanya. Tujuan dari kegiatan pelatihan ini agar nantinya anak-anak bisa mempunyai usaha sendiri dengan keahlian menyablon menggunakan alat-alat sablon yang sudah dibeli dan dipersiapkan untuk mereka, sehingga mereka tidak turun lagi ke jalan untuk mengamen. Namun keinginan ini tertunda dikarenakan kelas pondok ranji tidak memiliki tempat untuk menyimpan alat-alat sablon tersebut.
Anak-anak sedang mendapatkan pelatihan sablon. (Dok. Parental)
Hasil sablon karya anak-anak. (Dok. Parental)
Sejak pertengahan tahun 2013 PT. KAI (Kereta Api Indonesia) melakukan kebijakan penghapusan kereta KRL ekonomi dan revitalisasi stasiun kereta api miliknya di JABODETABEK. Hal ini sangat berdampak terhadap kelas Pondok Ranji. Sejak penghapusan KRL ekonomi, beberapa anak berganti mata pencahariannya, ada yang bekerja di kapal & ada juga yang menjadi kuli bangunan. Namun kebanyakan dari mereka tetap mengamen, bukan lagi di kereta, melainkan di mobil angkutan umum. Puncaknya ialah pada pertengahan tahun 2014, stasiun pondok ranji disterilisasi, sehingga di gardu listrik tempat biasanya diadakan KBM (kegiatan belajar mengajar) tidak boleh lagi dipergunakan. Alhasil, kelas pondok ranji terhenti dalam waktu yang cukup lama.

Kabar gembira menghampiri para pengajar di penghujung tahun 2014. Kelas pondok ranji mendapatkan tempat / kelas untuk melakukan kegiatan belajar mengajar dari seorang ibu yang baik hati. Hal ini dikarenakan salah satu pengajar Pondok Ranji sempat berkenalan dan bercerita tentang kondisi kelas Pondok Ranji dengan ibu tadi di acara Jambore Sahabat Anak beberapa waktu sebelumnya. Akhirnya ibu tadi menawarkan tempat untuk SSC. Alhamdulillah, rejeki anak soleh :) Tempat yang ditawarkan kepada SSC ternyata sebuah kelas yang sehari-harinya dipergunakan untuk PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini).

Setalah kelas Pondok Ranji memiliki kelas atau tempat untuk belajar kembali. Para pengajar sepakat memulai lagi kelas yang sudah cukup lama terhenti. Para pengajar mencoba mendatangi tempat anak-anak biasa berkumpul dahulu, akan tetapi hanya ada beberapa anak saja yang berhasil ditemui. Banyak dari mereka yang sedang mengamen di angkutan umum. Anak-anak yang ditemui para pengajar, saat hendak diajak untuk belajar kembali, mereka tidak langsung mau, mereka malu-malu, mungkin karena sudah lama tidak belajar dan hanya ada sedikit anak yang ada saat itu. Padahal mereka sudah diberitahu kalau mereka sudah memiliki kelas belajar kembali. Dengan berbagai alasan mereka menolak dan bilang kalau nanti anak-anak yang lainnya sudah berkumpul, mereka akan menyusul ke kelas. Sebetulnya para pengajar sudah mulai melakukan kegiatan belajar mengajar, hanya saja anak murid yang diajarkan berbeda, yaitu anak-anak kelas PAUD, anak murid kelas yang dipinjamkan kepada SSC. Wow!

Kakak-kakak pengajar Pondok Ranji sekarang mulai terbiasa mengajar adik-adik PAUD dan beberapa anak SD yang tinggal di sekitar PAUD itu. Mereka bertransformasi menjadi pengajar yang ekstra sabar mendampingi adik-adik belia yang sangat aktif nan ceria di sana. Komposisi pengajar Pondok Ranji berubah, beberapa pengajar lama masih bertahan dan ditambah dengan pengajar baru. Sebetulnya anak-anak didik Pondok Ranji yang dulu, beberapa kali sempat mengikuti kelas, bergabung dengan anak-anak PAUD. Akan tetapi, sepertinya mereka malu karena mesti bergabung dengan anak-anak PAUD, sedangkan usia mereka sudah belasan tahun. Mungkin di antara mereka juga tidak konsen mengikuti kelas karena kegaduhan kelas hasil keaktifan anak-anak PAUD. Akhirnya mereka sudah tidak pernah lagi datang mengikuti kelas belajar.

Kelas Pondok Ranji baru yang menempati kelas PAUD.
Bayangkan pengajar Pondok Ranji mengurusi anak segini banyak. Hahaha
Terlepas dari semua kisah di atas, salut & bangga untuk kepala sekolah yang juga sahabat saya Cynthia, karena bisa terus konsisten memimpin para pengajar pondok Ranji, baik yang lama maupun baru. Salut juga untuk Rizki, Eva, Ratu, Iqbal, Fitri, Wildan, Dessy, Anas, Irfan, Key, Noni & Baskoro, mereka semua para pengajar Pondok Ranji yang masih aktif & beberapa sudah non aktif. Mereka rela berbagi ilmu, keceriaan dan waktunya tiap minggu mengajar di kelas tercinta ini. Untuk yang masih aktif mengajar, semoga kalian bisa selalu konsisten berbagi kepada mereka yang membutuhkan :)



Thursday, March 27, 2014

Pelajaran dari Film Janji Joni


      Film ini tuh film favorit gue banget dari dulu. Udah ditonton beberapa kali pun masih tetep suka & ngak ngebosenin! Gue suka film ini karena alur ceritanya bagus, soundtrack filmnya keren2 dan ada pesan besar yang tersirat dari film ini, yaitu tentang PEKERJAAN. Di salah satu adegannya ada percakapan yang intinya "Pekerjaan yang bagus itu bukan pekerjaan yang banyak duitnya, tapi pekerjaan di mana lo bisa nikmatin pekerjaan itu." Tapi sebenernya sih kalo nanti kita bisa dapetin pekerjaan yang bikin kita nyaman dan banyak duitnya sih gapapa banget, itu rejeki! Jadi, semoga nanti kita bisa dapetin pekerjaan yang kita suka & nyaman ya! Amin! hehehe
                                                   




Friday, May 17, 2013

Segera Hadir Save Street Child Kelas Bogor

Foto Bersama Adik-Adik Di Terminal Baranang Siang, Bogor.
     Sabtu pekan lalu gue bersama Ara pergi ke Bogor. Kami berdua dari komunitas Save Street Child. Hari itu kami ditugaskan untuk melakukan survei untuk pembukaan kelas belajar baru di Bogor.

    Di Bogor gue dan Ara sudah ditunggu oleh Putra (foto paling kiri), doi calon pengajar kelas Bogor. Seharusnya ada 5 calon pengajar yang datang, tapi yang 4 orang lainnya berhalangan hadir karena satu dan lain hal.

      Okay, saatnya petualangan kami dimulai! Eh, tapi gue sama Ara buta daerah Bogor, akhirnya gue minta tolong sama Putra untuk jadi pemandu petualangan kali ini. Yeay! Pertama, kalo ga salah dia menyarankan kami pergi ke lampu merah dekat pemda Bogor, katanya di situ banyak anak marjinalnya. Letaknya di daerah Bojong Gede. Setelah dipikir-pikir akhirnya kami batal ke sana, mengingat Bojong Gede tempatnya lumayan jauh dari stasiun Bogor, titik awal kami berkumpul. Sebelum ke Bogor, sebenarnya gue sudah tanya-tanya dulu sama temen gue yang kuliah di Institut Pertanian Bogor (IPB), mengenai di mana tempat yang banyak anak marjinalnya. Dia nyaranin gue ke terminal Baranang Siang dan Tugu Kujang. Okey sip! Akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke terminal Baranang Siang yang letaknya di pusat kota Bogor.

    Sesampainya di gerbang terminal kami belum melihat ada tanda-tanda anak marjinal. Beberapa saat kemudian kami bertemu dengan dua pengamen cilik. Anak lelaki dan anak perempuan. Setelah kami tanya-tanya, ternyata anak lelaki itu masih kelas 6 SD dan yang perempuan kelas 1 SMP. Mereka mengamen setelah pulang sekolah untuk mengisi waktu luang. Duuh, harusnya mereka mengisi waktu luangnya dengan belajar atau bermain. Hiks. Kami mengulik informasi dari kedua pengamen cilik itu mengenai di mana keberadaan anak-anak marjinal di sekitar situ. Mereka memberitahu kalau biasanya tempat yang banyak anak marjinal itu di bagian belakang terminal tempat angkot-angkot ngetem. Kami langsung bergegas ke sana dan kami tidak menemukan satu pun anak marjinal di sekitar situ, kami kecewa.  Eh, tunggu dulu, kami melihat ada anak marjinal! Mereka sedang berkumpul di salah satu warung sekitar situ. Akhirnya Gue, Ara & Putra menuju warung untuk berkenalan dan melakukan PDKT ke mereka. Setelah berkenalan akhirnya kami tahu nama mereka, yaitu Ojit, Age, Dani, Ilham & Galih (sepertinya dia ketuanya).

    Setelah berkenalan, kami semua berkumpul di bawah pohon besar di depan warung tadi. Ojit, Age dkk langsung beraksi unjuk kepiawaian dalam bermusik tanpa diinstruksi. Wow! Mereka bernyanyi bersama dengan alat musik sederhana, yaitu ukulele dan gendang buatan dari pipa paralon. Huaaa.. seneng liatnya, teharu gue! :") Pertama, mereka menyanyikan lagu milik TEGAR. Gue ga tahu Tegar itu siapa. Belakangan gue tahu, doi pengamen cilik terkenal asal sukabumi. Tegar ini idola mereka semua. Lagu-lagu Tegar ngehits di kalangan pengamen. Sesudah membawakan lagu milik Tegar, mereka membawakan 3 buah lagu ciptaan mereka sendiri. Keren abis! Salah satu lagu berjudul TUHAN. Mereka berbakat!

  Setelah mereka unjuk kepiawaian dalam bernyanyi, mereka beristirahat sejenak. Dari rumah gue membawa beberapa buah susu kotak, jadilah gue mau membagikan itu ke mereka. Eits, tapi sebelum mereka mendapatkan susunya, mereka mesti menjawab pertanyaan dulu dari Gue, Ara & Putra. hehehe. Jadi, kami bikin kuis dadakan dengan memberikan pertanyaan rebutan, siapa yang bisa menjawab baru bisa mendapatkan susu kotaknya :p

    Soal pertanyaannya berupa matematika dasar dan pengetahuan umum. Saat diberikan pertanyaan soal MTK, ternyata masih banyak anak yang belum bisa hitung-hitungan. Sedih :( Cuma beberapa anak saja yang bisa menjawab. Ini jadi tugas kita untuk mengajarkan ke mereka. Lalu lanjut ke bagian pengetahuan umum, saat ditanya "Apa nama ibu kota negara kita Indonesia?" Banyak yang ngak tahu juga, cuma ada 1 orang yang bisa menjawab. Hiks. Sedih.

   Saat kami mengajak mereka untuk belajar, mereka sangat antusias! "Ayoo kak, belajar sekarang!", "Belajarnya tiap hari ya kaak?", jadi seneng dengernya. Para calon pengajar SSC Bogor sepakat hari Sabtu / Minggu ini, mereka mau mulai belajar dengan adik-adik itu. Akhirnya SSC punya kelas belajar di Bogor. Cihuuuy!!

    Masih banyak banget dari mereka yang belum terjamah pendidikan, oleh sebab itu, ini tugas gue, lo & kita semua untuk memberikan pendidikan untuk mereka yang membutuhkan. Mengutip kata-kata Anies Baswedan "MENDIDIK adalah tugas tiap orang TERDIDIK, siapa saja bisa menjadi guru, siapa saja bisa MENDIDIK."

  Sampai ketemu di kelas belajar Save Street Child selanjutnya! :)



Salam,
Kak Bram
         

Friday, January 28, 2011

Sayembara Komik Mas Gembol 2

   Satu lagi ni komik yang naskahnya gw buat.. Loh? padahal disitu penulis naskahnya tertulis @bambanghara? Iya, itu akun twitter bokap gw. Jadi waktu itu pas ngirim naskah komik ke KDRI, gw pake Email & nyantumin nama akun twitter bokap.hehehe (gaul ya bokap gw main twitter, pdhal ga pernah dimainin.. :p) Kenapa? karna gw kira ga boleh ngirim naskah 2 kali, jadilah gw siasati pake akun punya bokap..hiahaha *llicik*

  Soal ide naskahnya, jadi gw dapet inspirasi pas lagi dengerin lagu Efek Rumah Kaca, yang judulnya Belanja Terus Sampai Mati, inti lagunya si motret ttg budaya Konsumersisme gitu. Yaudah, abis itu langsung deh kepikiran buat alat (melalui naskah) yg bisa buat hasrat belanja kita berhenti, jadilah gw buat alat yg namanya Dompet Filter Hasrat Belanja. Nah, biar lebih jelas alur ceritanya bisa nyimak komiknya disamping gan.. Cekidot! :D