Friday, May 17, 2013

Segera Hadir Save Street Child Kelas Bogor

Foto Bersama Adik-Adik Di Terminal Baranang Siang, Bogor.
     Sabtu pekan lalu gue bersama Ara pergi ke Bogor. Kami berdua dari komunitas Save Street Child. Hari itu kami ditugaskan untuk melakukan survei untuk pembukaan kelas belajar baru di Bogor.

    Di Bogor gue dan Ara sudah ditunggu oleh Putra (foto paling kiri), doi calon pengajar kelas Bogor. Seharusnya ada 5 calon pengajar yang datang, tapi yang 4 orang lainnya berhalangan hadir karena satu dan lain hal.

      Okay, saatnya petualangan kami dimulai! Eh, tapi gue sama Ara buta daerah Bogor, akhirnya gue minta tolong sama Putra untuk jadi pemandu petualangan kali ini. Yeay! Pertama, kalo ga salah dia menyarankan kami pergi ke lampu merah dekat pemda Bogor, katanya di situ banyak anak marjinalnya. Letaknya di daerah Bojong Gede. Setelah dipikir-pikir akhirnya kami batal ke sana, mengingat Bojong Gede tempatnya lumayan jauh dari stasiun Bogor, titik awal kami berkumpul. Sebelum ke Bogor, sebenarnya gue sudah tanya-tanya dulu sama temen gue yang kuliah di Institut Pertanian Bogor (IPB), mengenai di mana tempat yang banyak anak marjinalnya. Dia nyaranin gue ke terminal Baranang Siang dan Tugu Kujang. Okey sip! Akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke terminal Baranang Siang yang letaknya di pusat kota Bogor.

    Sesampainya di gerbang terminal kami belum melihat ada tanda-tanda anak marjinal. Beberapa saat kemudian kami bertemu dengan dua pengamen cilik. Anak lelaki dan anak perempuan. Setelah kami tanya-tanya, ternyata anak lelaki itu masih kelas 6 SD dan yang perempuan kelas 1 SMP. Mereka mengamen setelah pulang sekolah untuk mengisi waktu luang. Duuh, harusnya mereka mengisi waktu luangnya dengan belajar atau bermain. Hiks. Kami mengulik informasi dari kedua pengamen cilik itu mengenai di mana keberadaan anak-anak marjinal di sekitar situ. Mereka memberitahu kalau biasanya tempat yang banyak anak marjinal itu di bagian belakang terminal tempat angkot-angkot ngetem. Kami langsung bergegas ke sana dan kami tidak menemukan satu pun anak marjinal di sekitar situ, kami kecewa.  Eh, tunggu dulu, kami melihat ada anak marjinal! Mereka sedang berkumpul di salah satu warung sekitar situ. Akhirnya Gue, Ara & Putra menuju warung untuk berkenalan dan melakukan PDKT ke mereka. Setelah berkenalan akhirnya kami tahu nama mereka, yaitu Ojit, Age, Dani, Ilham & Galih (sepertinya dia ketuanya).

    Setelah berkenalan, kami semua berkumpul di bawah pohon besar di depan warung tadi. Ojit, Age dkk langsung beraksi unjuk kepiawaian dalam bermusik tanpa diinstruksi. Wow! Mereka bernyanyi bersama dengan alat musik sederhana, yaitu ukulele dan gendang buatan dari pipa paralon. Huaaa.. seneng liatnya, teharu gue! :") Pertama, mereka menyanyikan lagu milik TEGAR. Gue ga tahu Tegar itu siapa. Belakangan gue tahu, doi pengamen cilik terkenal asal sukabumi. Tegar ini idola mereka semua. Lagu-lagu Tegar ngehits di kalangan pengamen. Sesudah membawakan lagu milik Tegar, mereka membawakan 3 buah lagu ciptaan mereka sendiri. Keren abis! Salah satu lagu berjudul TUHAN. Mereka berbakat!

  Setelah mereka unjuk kepiawaian dalam bernyanyi, mereka beristirahat sejenak. Dari rumah gue membawa beberapa buah susu kotak, jadilah gue mau membagikan itu ke mereka. Eits, tapi sebelum mereka mendapatkan susunya, mereka mesti menjawab pertanyaan dulu dari Gue, Ara & Putra. hehehe. Jadi, kami bikin kuis dadakan dengan memberikan pertanyaan rebutan, siapa yang bisa menjawab baru bisa mendapatkan susu kotaknya :p

    Soal pertanyaannya berupa matematika dasar dan pengetahuan umum. Saat diberikan pertanyaan soal MTK, ternyata masih banyak anak yang belum bisa hitung-hitungan. Sedih :( Cuma beberapa anak saja yang bisa menjawab. Ini jadi tugas kita untuk mengajarkan ke mereka. Lalu lanjut ke bagian pengetahuan umum, saat ditanya "Apa nama ibu kota negara kita Indonesia?" Banyak yang ngak tahu juga, cuma ada 1 orang yang bisa menjawab. Hiks. Sedih.

   Saat kami mengajak mereka untuk belajar, mereka sangat antusias! "Ayoo kak, belajar sekarang!", "Belajarnya tiap hari ya kaak?", jadi seneng dengernya. Para calon pengajar SSC Bogor sepakat hari Sabtu / Minggu ini, mereka mau mulai belajar dengan adik-adik itu. Akhirnya SSC punya kelas belajar di Bogor. Cihuuuy!!

    Masih banyak banget dari mereka yang belum terjamah pendidikan, oleh sebab itu, ini tugas gue, lo & kita semua untuk memberikan pendidikan untuk mereka yang membutuhkan. Mengutip kata-kata Anies Baswedan "MENDIDIK adalah tugas tiap orang TERDIDIK, siapa saja bisa menjadi guru, siapa saja bisa MENDIDIK."

  Sampai ketemu di kelas belajar Save Street Child selanjutnya! :)



Salam,
Kak Bram
         

No comments:

Post a Comment