Tuesday, May 12, 2015

Transformasi Save Street Child Kelas Pondok Ranji

Gardu listrik tempat belajar kelas Pondok Ranji. (Dok. Okezone)
Kelas Pondok Ranji terbentuk sekitar akhir tahun 2012. Lokasinya terletak di lingkungan area Stasiun Pondok Ranji (Bintaro), Tangerang Selatan. Selama kurang lebih 2,5 tahun kelas ini berjalan, banyak sekali kisah menarik yang sudah terjadi. Di kelas Pondok Ranji ini saya bukan sebagai pengajar, melainkan sebagai “pengawal” kelas yang ditugaskan oleh tim DIPI (Divisi Pendidikan) dari SSC (Save Street Child).

Murid-murid “spesial” kelas ini kebanyakan anak-anak marjinal yang setiap harinya bekerja mencari uang dengan mengamen atau menyapu di kereta KRL (Kereta Rel Listrik) ekonomi jurusan Serpong – Tanah Abang (dulu KRL ekonomi masih beroperasi). Mereka terpaksa menjadi anak marjinal kebanyakan karena kabur dari rumah, tidak tahan dengan keadaan orang tua yang tidak memedulikan mereka.

Anak-anak didik kelas Pondok Ranji saat mengamen di kereta.
Kelas Pondok Ranji diadakan setiap hari Minggu. Sebelum memulai kelas, para pengajar mesti mencari keberadaan anak-anak marjinal itu di tempat biasa mereka berkumpul. Terkadang para pengajar mendapati tempat berkumpul mereka kosong dikarenakan anak-anak itu sedang mengamen di KRL ekonomi. Jadi, para pengajar mesti menunggu mereka selesai mengamen di kereta dan kembali ke stasiun Pondok Ranji. Jumlah mereka sekitar belasan anak.

Setelah semua anak-anak berkumpul, mereka dan para pengajar menempati area gardu listrik di sekitar stasiun dengan bermodalkan alas duduk seadanya untuk melakukan kegiatan belajar mengajar. Pelajaran yang diajarkan seputar belajar berhitung, membaca & menulis. Terkesan hal mendasar yang diajarkan, namun kenyataannya masih banyak anak yang masih belum bisa berhitung dan bahkan ada anak yang sudah berusia sekitar 16 tahun tapi masih belum bisa membaca & menulis. Usia mereka sekitar 8 – 17 tahun. Selain pelajaran dasar seperti berhitung, membaca & menulis, mereka juga diajarkan pelajaran seperti agama, mengenal kosakata bahasa inggris, pengetahuan umum & keterampilan. Para pengajar juga memposisikan diri sebagai sahabat mereka, sehingga anak-anak bisa bercerita berbagai macam hal yang sifatnya pribadi. Jadi, para pengajar menjadi tempat curhat mereka.

Anak-anak sedang serius belajar. (Dok. Okezone)
Saat anak-anak mulai merasa jenuh saat mengikuti pelajaran yang diberikan, kegiatan belajar akan dihentikan sejenak. Beberapa pengajar berinisiatif meminta anak-anak untuk bernyanyi sambil memainkan alat musik yang mereka punya seperti yang biasanya mereka lakukan di atas kereta. Mereka begitu handal dan percaya diri memainkan “senjatanya”. Melihat mereka mahir memainkan alat musik, beberapa pengajar tertarik untuk mencoba memainkannya. Alat musik yang dicoba adalah gendang / tamtam buatan yang dibuat dari pipa paralon dan karet ban bekas. Mereka kreatif. “Ternyata susah juga ya memainkannya.” celetuk salah satu pengajar sesudah mencobanya. Alhasil, anak-anak itu mengajari para pengajar cara memainkannya. Jadi, di sini bukan hanya adik-adik itu yang belajar dari kakak-kakak pengajarnya tetapi juga para pengajar belajar dari adik-adiknya :) 

Kalo bosan ya, main musik :p 
Setelah beberapa bulan kelas berjalan, ada hal yang tidak mengenakan terjadi. Ada salah satu anak didik yang terlibat perselisihan yang berujung perkelahian dengan pedagang tahu di kereta. Anak ini melukai pedagang tahu itu di bagian bawah mata dengan menggunakan pulpen. Sangat mengerikan. Hal itu mengakibatkan anak ini harus mendekam di penjara. Sempat ada upaya dari kami pihak Save Street Child untuk membebaskan anak ini karena dia masih di bawah umur. Akan tetapi hal itu gagal karena korban meminta sejumlah uang yang jumlahnya sangat besar untuk membatalkan tuntutannya. Alhasil, kami pihak SSC (Save Street Child) sepakat untuk berhenti melakukan upaya membebaskan anak tersebut. Selain karena kami tidak mempunyai uang untuk membayarkan jumlah uang yang diminta, kami juga berpikir agar nantinya anak ini mendapatkan pelajaran dari apa yang telah diperbuatnya.

Beberapa bulan kemudian, kesedihan menimpa kelas pondok ranji karena ada salah satu anak didik yang meninggal dunia. Anak didik ini meninggal karena terjatuh dari atap kereta api yang sedang berjalan. Sangat mengerikan membayangkannya. Saat pertama kali mendegar berita itu kami semua syok, apalagi para pengajar, terlebih salah satu pengajar yang memiliki kedekatan dengan anak didik itu. Pengajar yang dekat sekali dengan anak didik itu, setelah beberapa saat kejadian, datang ke stasiun pondok ranji dan melihat sendiri kondisi korban yang menyedihkan berlumuran darah. Tangis pun tidak dapat terhindarkan. Keesokan hariya, anak didik ini dikuburkan dan kembali menghadap Sang Pencipta. Selamat jalan, Pian :)

Di penghujung tahun 2013, Save Street Child bekerjasama dengan Parental Advisory (perusahaan sablon) mengadakan pelatihan sablon untuk anak-anak didik SSC kelas Pondok Ranji. Pelatihan diadakan di Depok, markas SSC pusat saat itu. Mereka diajarkan bagaimana teknik sablon manual yang baik dan benar. Mulai dari mengafdruk (proses pemindahaan gambar model ke screen dengan menggunakan cahaya ultra violet / lampu neon melalui penyinaran), teknik menyablon kaos menggunakan tinta, hingga proses akhir yaitu pengeringan hasil sablon. Anak-anak terlihat antusias saat mencobanya. Tujuan dari kegiatan pelatihan ini agar nantinya anak-anak bisa mempunyai usaha sendiri dengan keahlian menyablon menggunakan alat-alat sablon yang sudah dibeli dan dipersiapkan untuk mereka, sehingga mereka tidak turun lagi ke jalan untuk mengamen. Namun keinginan ini tertunda dikarenakan kelas pondok ranji tidak memiliki tempat untuk menyimpan alat-alat sablon tersebut.
Anak-anak sedang mendapatkan pelatihan sablon. (Dok. Parental)
Hasil sablon karya anak-anak. (Dok. Parental)
Sejak pertengahan tahun 2013 PT. KAI (Kereta Api Indonesia) melakukan kebijakan penghapusan kereta KRL ekonomi dan revitalisasi stasiun kereta api miliknya di JABODETABEK. Hal ini sangat berdampak terhadap kelas Pondok Ranji. Sejak penghapusan KRL ekonomi, beberapa anak berganti mata pencahariannya, ada yang bekerja di kapal & ada juga yang menjadi kuli bangunan. Namun kebanyakan dari mereka tetap mengamen, bukan lagi di kereta, melainkan di mobil angkutan umum. Puncaknya ialah pada pertengahan tahun 2014, stasiun pondok ranji disterilisasi, sehingga di gardu listrik tempat biasanya diadakan KBM (kegiatan belajar mengajar) tidak boleh lagi dipergunakan. Alhasil, kelas pondok ranji terhenti dalam waktu yang cukup lama.

Kabar gembira menghampiri para pengajar di penghujung tahun 2014. Kelas pondok ranji mendapatkan tempat / kelas untuk melakukan kegiatan belajar mengajar dari seorang ibu yang baik hati. Hal ini dikarenakan salah satu pengajar Pondok Ranji sempat berkenalan dan bercerita tentang kondisi kelas Pondok Ranji dengan ibu tadi di acara Jambore Sahabat Anak beberapa waktu sebelumnya. Akhirnya ibu tadi menawarkan tempat untuk SSC. Alhamdulillah, rejeki anak soleh :) Tempat yang ditawarkan kepada SSC ternyata sebuah kelas yang sehari-harinya dipergunakan untuk PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini).

Setalah kelas Pondok Ranji memiliki kelas atau tempat untuk belajar kembali. Para pengajar sepakat memulai lagi kelas yang sudah cukup lama terhenti. Para pengajar mencoba mendatangi tempat anak-anak biasa berkumpul dahulu, akan tetapi hanya ada beberapa anak saja yang berhasil ditemui. Banyak dari mereka yang sedang mengamen di angkutan umum. Anak-anak yang ditemui para pengajar, saat hendak diajak untuk belajar kembali, mereka tidak langsung mau, mereka malu-malu, mungkin karena sudah lama tidak belajar dan hanya ada sedikit anak yang ada saat itu. Padahal mereka sudah diberitahu kalau mereka sudah memiliki kelas belajar kembali. Dengan berbagai alasan mereka menolak dan bilang kalau nanti anak-anak yang lainnya sudah berkumpul, mereka akan menyusul ke kelas. Sebetulnya para pengajar sudah mulai melakukan kegiatan belajar mengajar, hanya saja anak murid yang diajarkan berbeda, yaitu anak-anak kelas PAUD, anak murid kelas yang dipinjamkan kepada SSC. Wow!

Kakak-kakak pengajar Pondok Ranji sekarang mulai terbiasa mengajar adik-adik PAUD dan beberapa anak SD yang tinggal di sekitar PAUD itu. Mereka bertransformasi menjadi pengajar yang ekstra sabar mendampingi adik-adik belia yang sangat aktif nan ceria di sana. Komposisi pengajar Pondok Ranji berubah, beberapa pengajar lama masih bertahan dan ditambah dengan pengajar baru. Sebetulnya anak-anak didik Pondok Ranji yang dulu, beberapa kali sempat mengikuti kelas, bergabung dengan anak-anak PAUD. Akan tetapi, sepertinya mereka malu karena mesti bergabung dengan anak-anak PAUD, sedangkan usia mereka sudah belasan tahun. Mungkin di antara mereka juga tidak konsen mengikuti kelas karena kegaduhan kelas hasil keaktifan anak-anak PAUD. Akhirnya mereka sudah tidak pernah lagi datang mengikuti kelas belajar.

Kelas Pondok Ranji baru yang menempati kelas PAUD.
Bayangkan pengajar Pondok Ranji mengurusi anak segini banyak. Hahaha
Terlepas dari semua kisah di atas, salut & bangga untuk kepala sekolah yang juga sahabat saya Cynthia, karena bisa terus konsisten memimpin para pengajar pondok Ranji, baik yang lama maupun baru. Salut juga untuk Rizki, Eva, Ratu, Iqbal, Fitri, Wildan, Dessy, Anas, Irfan, Key, Noni & Baskoro, mereka semua para pengajar Pondok Ranji yang masih aktif & beberapa sudah non aktif. Mereka rela berbagi ilmu, keceriaan dan waktunya tiap minggu mengajar di kelas tercinta ini. Untuk yang masih aktif mengajar, semoga kalian bisa selalu konsisten berbagi kepada mereka yang membutuhkan :)



13 comments:

  1. Replies
    1. Ka bram mau minta alamat emailnya dong atau kontak yg bisa dihubungi ya. Ada yg mau ditanya. Makasih :)

      Delete
    2. kalau mau gabung gimana caranya?
      Plis info me di email deslie1411@gmail.com

      Delete
  2. Halo kak, boleh minta kontak untuk SSC Bintaro? Aku mau nanya2 ttg volunteering, pls email me citasylvana@gmail.com, thanks before :)

    ReplyDelete
  3. Hai ka bram. Boleh minta kontak utk info volunteer di wilayah tangerang? Please kindly contact me, ernamanalu.dame@gmail.com
    Thank you :)

    ReplyDelete
  4. Hallo kak Bram, kalau mau join jadi volunteer bagaimana ya caranya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi, kak Dhea, mohon maaf baru bisa membalas karena jarang membuka blog. Kak Dhea bisa coba menghubungi savestreetchild@gmail.com atau khusus kelas Pondok Ranji ini kakak bisa menghubungi kak Riski (riskikurniawan.g@gmail.com) yang bertugas sebagai pengurus kelas. Terima kasih :)

      Delete
  5. haloo kak, kalo mau mengadakan acara social project di sini gmn ya caranya? mohon info ya ke rosaliamgr@gmail.com

    ReplyDelete