Saturday, July 2, 2016

Mengenali Penyakit Alzheimer melalui Film Driving Miss Daisy

Ilustrasi Film Driving Miss Daisy (freshwatercoastfoundation.org)

Belakangan ini saya mempunyai kebiasaan baru, yaitu berburu film-film yang berkaitan dengan psikologi untuk saya tonton dan pelajari. Setelah mencari beberapa referensi dari internet, akhirnya saya menemukan film “Driving Miss Daisy” untuk saya tonton. Driving Miss Daisy adalah sebuah film drama komedi tahun 1989 yang menceritakan tentang hubungan antara seorang wanita Yahudi tua (Daisy Werthan, yang diperankan Jessica Tandy) dengan sopirnya yang merupakan seorang Afrika-Amerika (Hoke Colburn, yang diperankan Morgan Freeman), selama 25 tahun. Film ini disutradarai oleh Bruce Beresford dan memenangkan empat Academy Award termasuk sebagai Film Terbaik.



Alur Cerita

Film ini bemula awal tahun 1948an. Awal mula pertemuan mereka adalah ketika anak dari Ny. Daisy (Boolie Werthan, diperankan oleh Dan Aykroyd), tidak memperbolehkannya untuk mengemudi lagi karena faktor keselamatan ibunya. Oleh karenanya, anak Ny. Daisy merekrut supir untuk mengantarkan kemanapun ia pergi. Akan tetapi sebagai wanita tua cerdas karena berlatar belakang sebagai guru, yang juga biasa hidup mandiri, ia menolaknya. Di sini keseruan film dimulai, Hoke pada awalnya mendapatkan penolakan-penolakan dari Ny. Daisy, bahkan cenderung selalu mendapatkan perlakuan sinis. Semua pekerjaan yang dilakukan Hoke selalu salah, akan tetapi dengan jenaka Hoke tetap tenang menghadapi situasi sulit ini. Untuk bisa mengantarkan Ny. Daisy untuk pertama kalinya, Hoke pun sedikit “memaksa” dengan caranya. Akhirnya Ny. Daisy mau dengan terpaksa. Penolakan Ny.Daisy ternyata juga didasari, bahwa dahulu, iya merupakan seorang yang susah hidupnya dan harus berjuang untuk mengatasinya. Akan tetapi, saat hidupnya sudah berkecukupan bahkan lebih, dia masih merasa dirinya seperti dulu dan cenderung hemat sekali bahkan pelit.

Ada situasi di mana di suatu pagi, Ny.Daisy kehilangan sekaleng ikan salmon yang dibelinya di toko, ia pun langsung menelepon anaknya untuk datang dan ia bersikeras menuduh kalau Hoke yang memakannya. Hal ini juga didukung karena dari awal Ny.Daisy sudah memiliki sentiment kecurigaan terhadap orang keturunan kulit hitam. Pada saat itu di Amerika ada jurang pemisah yang membedakan antara orang berkulit putih dan orang berkulit hitam. Balik lagi ke situasi tadi, pada saat Hoke datang, ternyata memang benar, Hoke mengakui hal tersebut, akan tetapi dia sudah membelikan lagi satu buah kaleng salmon sebagai gantinya. Ny. Daisy tertegun akan hal itu, tetapi tetap merasa gengsi mengakui tindakannya keliru.

Perlahan, seiring berjalannya waktu, situasi mulai berbuah. Ny. Daisy mulai bisa menerima Hoke sebagai supir pribadinya. Mereka sudah bisa bergurau satu sama lain. Sebenarnya, Ny. Daisy memiliki asisten rumah tangga yang juga seorang perempuan keturunan Afrika-Amerika (Idella, yang diperankan Esther Rolle) yang sudah dipekerjakannya selama puluhan tahun dan mendapat kepercayaannya. Tapi suatu saat Idella meninggal karena mengalami serangan jantung. Hal ini juga yang membuat hubungan Hoke dan Ny. Daisy semakin baik, karena saling membutuhkan satu sama lain. Lambat laun, Hoke, dengan sikapnya yang sederhana, secara tidak langsung mengajarkan berbagai hal baik kepada Ny. Daisy.

Selanjutnya, di tahun berikutnya, saat Ny. Daisy semakin menua, ada kejadian tak terduga saat Hoke datang ke rumahnya, dia mencari-cari Ny. Daisy ke sana ke mari, tapi tidak ketemu. Ternyata Ny.Daisy sedang kebingungan dan cemas sekali mencari sekumpulan berkas, yang ternyata Ny.Daisy sedang berhalusinasi, menggangap dirinya masih menjadi guru dan dia kehilangan berkas-berkas PR para muridnya yang harus dikembalikan kepada muridnya keesokan hari. Akhirnya Hoke bisa menenangkan Ny. Daisy dari keadaan tersebut. Setelah itu ada obrolan yang terjadi di antara mereka. Ny. Daisy merasa bahwa dirinya merepotkan dan tak mau akan hal itu. Lalu, tanpa terduga Ny.Daisy bilang kepada Hoke, kalau dia merupakan sahabat terbaiknya. Akhirnya beberapa tahun kemudian mereka harus berpisah, karena Hoke yang juga sudah tua, tidak bisa lagi menyetir dan Ny. Daisy karena keadaannya semakin menua dan tidak ada yang mengurusnya, dia ditempatkan di panti jompo oleh anaknya.

Mengulas Film

Jadi, setelah membaca alur cerita film Driving Miss Daisy di atas, ada beberapa hal yang bisa kita pahami. Mari kita lihat beberapa sifat atau prilaku yang dimiliki Ny. Daisy di atas, yaitu :

  • Berprasangka buruk dan curiga akan semua hal
  • Ketakutan, akan sesuatu yang dimilikinya diambil orang lain
  • Hemat, cenderung pelit
  • Berhulusinasi, tampak kebinggungan dan cemas


Sebenarnya prilaku-prilaku yang dimilikinya seperti berprasangka buruk, ketakutan dan pelit, terbentuk karena faktor lingkungan yang membentuknya seperti itu. Mulai dari berburuk sangka kepada orang lain (terutama orang berkulit hitam), hal ini dikarenakan pada masa itu di Amerika berkembang perbedaan kelas antara orang kulit hitam dan putih, yang dianggap orang kulit hitam derajatnya lebih rendah dibanding kulit putih. Lalu ketakutan akan sesuatu yang dimilikinya diambil dan cenderung pelit, hal ini didasari karena pada waktu kecil, Ny. Daisy pernah mengalami kemiskinan dan saat sudah menjadi kaya, kemiskinan itu terus menghantui, akhirnya dia tetap berprilaku hemat untuk menghindari dirinya dari kemiskinan itu lagi. Hal-hal di atas juga semakin bertamabah tingkatannya saat Ny. Daisy semakin menua. Untuk hal terakhir, saat Ny. Daisy mengalami halusinasi, hal ini diakibatkan oleh penyakit degeneratif, yaitu penyakit yang mengiringi proses penuaan. Dalam hal ini Ny. Daisy mengalami Alzheimer.

Apa itu Alazheimer?

Penyakit Alzheimer adalah jenis demensia (biasa disebut kepikunan) paling umum yang awalnya ditandai oleh melemahnya daya ingat, hingga gangguan otak dalam melakukan perencanaan, penalaran, persepsi, dan berbahasa. Pada penderita Alzheimer, gejala berkembang secara perlahan-lahan seiring waktu. Misalnya yang diawali dengan sebatas lupa soal isi percakapan yang baru saja dibincangkan atau lupa dengan nama obyek dan tempat, bisa berkembang menjadi disorientasi dan perubahan perilaku. Perubahan perilaku dalam hal ini seperti menjadi agresif, penuntut, dan mudah curiga terhadap orang lain. Bahkan jika penyakit Alzheimer sudah mencapai tingkat parah, penderita dapat mengalami halusinasi, masalah dalam berbicara dan berbahasa, serta tidak mampu melakukan aktivitas tanpa dibantu orang lain. (Sumber: Alodokter)

Pada tahap ini bisa kita liat saat Ny. Daisy mengalami halusinasi, hal tersebut diakibatkan penyakit Alzheimer yang menggangu kinerja otaknya akibat penuaan. Biarpun sebenarnya Ny. Daisy dalam hal mengingat masih sangat bagus, karena dia di masa tuanya masih banyak kegiatan seperti membaca dan dulu dia berlatar belakang sebagai guru. Di akhir cerita juga saya sebutkan keadaan Ny. Daisy yang semakin tidak berdaya, dan sedihnya harus ditempatkan di panti jompo oleh anaknya. Orang dengan Alzheimer seperti Ny. Daisy harusnya di masa tuanya memerlukan pendamping atau yang mengurusi agar terhindar dari keadaan-keadaan yang tidak mengenakan untuk dirinya dan orang di sekitarnya. Dengan catatan harus orang yang ekstra sabar untuk mengurusinya. Dan memang faktor-faktor psikologis terdahulu sangat mempengaruhi prilaku di masa mendatang dan juga penyakit degeneratif selalu menghantui kita di hari tua. Oleh sebab itu, usahkan selalu asah dan pergunakan otak kita sebaik mungkin.

Teringat Nenek Sendiri

Saya mempunyai seorang nenek yang juga mengalami hal serupa dengan Ny. Daisy. Umur nenek saya sekitar 80 tahun. Kondisi fisiknya sudah mulai menurun, tapi semangatnya dalam melakukan hal-hal tertentu masih luar biasa. Nenek saya sudah mengalami tahap Alzheimer di mana di sudah lupa perbincangan yang baru dilakukannya dan sering melakukan pertanyaan yang berulang-ulang. Lalu dia sudah mulai berhalusinasi dan curiga atau berprasangka buruk kepada orang lain bahkan orang terdekatnya, dengan tuduhan yang tidak masuk akal pula. Pernah suatu saat nenek saya kehilangan celana rok berwarna cokelatnya, saat itu saya tidak tahu apa-apa dan dituduh mengambilnya. Hal ini sudah diluar akal kita sebagai orang normal, masa saya pakai rok. Dan dia juga sering kehilangan dompetnya, dan kalau sudah mencarinya, seperti orang kebakaran jenggot dan semua orang dituduh mengambilnya. Pada awalnya saya sangat jengkel akan hal tersebut, akan tetapi setelah saya belajar psikologi dan mengetahui tentang penyakit Alzheimer ini, saya belajar untuk memakluminya. Semoga kalian yang mengalami hal serupa atau yang di rumah kalian ada orang tua yang menderita Alzheimer agar bersabar & kita bisa merawat orang tua kita sebaik mungkin, ya.

Saya & Nenek


No comments:

Post a Comment